Disebuah negeri ada sebuah kota. Semua penduduknya buta.
Suatu hari, seorang raja dengan pengikutnya lewat kota itu; ia membawa
balatentara dan memasang tenda di gurun. Sang raja mempunyai seekor gajah
perkasa, yang dipergunakannya untuk berperang dan menimbulkan ketakjuban
rakyat.
Penduduk kota itu ingin sekali melihat gajah tersebut, dan
beberapa di antara orang-orang buta itupun berlari-lari bagaikan badut-badut
tolol berusaha mendekati. Karena tidak tahu sama sekali bentuk dan wujud gajah,
merekapun meraba-raba sekenanya, mencoba membayangkan gajah dan menyentuh
bagian-bagian tubuhnya. Masing-masing berfikir telah mengetahui sesuatu, sebab
telah menyentuh bagian tubuh tertentu.
Ketika mereka kembali ke tengah-tengah kaumnya, orang-orang
berkerumun disekeliling mereka. Kerumunan orang itu bertanya tentang bentuk dan
wujud gajah; dan mendengarkan segala yang diberitahukan kepada mereka.
Orang
yang tangannya menyentuh telinga gajah ditanya tentang bentuk gajah. Jawabnya,
“Gajah itu lebar, kasar, keras, dan luas seperti karpet.”
Orang
yang meraba belalainya berkata,”Saya tahu keadaan yang sebenarnya. Gajah itu
bagaikan pipa lurus dan kosong, dahsyat dan suka menghancurkan.”
Orang
yang menyentuh kakinya berkata,”Gajah itu perkasa, kokoh, bagaikan tiang.”
Dan
yang menyentuh ekor dan pantatnya berkata,”Wah, gajah itu bau, dan lentik
seperti cambuk.”
Masing-masing
telah meraba satu bagian saja. Masing-masing telah keliru mendeskripsikan
gajah. Pengetahuan memang bukan milik sibuta.
Gambaran empat orang buta yang mencoba
mengenali apa itu gajah diatas merupakan suatu analogi sufistik yang terkenal
di Belahan Dunia Timur. Analogi diatas merupakan gambaran yang bisa mewakili
mengenai peranan dan manfaat Teknologi Internet dewasa ini di Indonesia.
Internet ibaratnya suatu gajah yang ingin coba dikenali karena kabar manfaat
dan kemasyalatannya. Sebut saja, yang populer dewasa di masyarakat adalah
pandangan bahwa internet bisa diidentikkan dengan pornografi. Mungkin saja set
of mind yang terangkat kepermukaan akhir-akhir ini adalah “Kalau mau cari
yang porno ada di Internet”. Bahkan yang lebih parah lagi adalah
internet=pornografi. Namun dari sisi manfaat, tidak sedikit masyarakat baik
personal maupun organisasi mengggunakan Internet untuk membantu aktifitasnya
sehari-hari seperti berkirim surat elektronik, melakukan bisnis melalui sarana
elektronik bahkan menjadikannya sebagai media dakwah yang menyenangkan.
Binatang apakah Internet itu? Bagaimana semestinya mengenali dan menjelaskan
bahwa gajah itu berbelalai, bergading, berkuping lebar, berbadan besar dan
berekor? Bagaimana pendekatan yang terbaik untuk menjelaskan dan memanfaatkan
Internet?
Internet
Internet, sebagai suatu infrastruktur
awalnya adalah infrastruktur telekomunikasi yang dikembangkan oleh para empu teknologi
komputer dan telekomunikasi dari ruang dan garasi riset di Amerika Serikat di
sekitar akhir dasawarsa 60-an. Kemudian, Dephankam AS melalui program ARPA
mendanai pengembangan lebih lanjut riset-riset tersebut sebagai suatu
alternatif sistem telekomunikasi untuk mengantisipasi serangan nuklir. Ya,
Internet pada akhirnya adalah produk teknologi perang dingin yang kemudian
(kembali) dielobrasi lebih jauh untuk kepentingan sipil. Peranannya yang
semakin signifikan kemudian tidak menjadikannya sebagai sarana telkomunikasi
saja. Namun berkembang lebih jauh untuk memenuhi dan menciptakan berbagai
kebutuhan masyarakat modern mulai dari pengiriman surat elektronik, forum
diskusi, media online, sarana jual beli dan juga sarana untuk menampilkan
semangat spiritualisme.
Sampai
sekarang, walaupun Amerika Serikat bisa dianggap sebagai pemrakarsa teknologi
Interet, tidak ada satu pun negara atau entitas yang berhak mengakui
kepemilikan infrastruktur Internet. Internet pada akhirnya berkembang demikian
pesat tanpa pemilikan dan sangat terbuka. Siapapun yang mau memanfaatkan dan
berkiprah untuk memanfaatkan Internet tidak ada yang melarang. Namun disinilah
kemudian masalahnya muncul. Dengan keterbukaannya ini, Internet berkembang
menjadi suatu sarana, suatu media baru dimana "The bad" dan "The
Good" cuma dipisahkan oleh satu klik tetikus pemakainya; Dimana mudharat
dan manfaat sama-sama tampil sejajar; Dimana pornografi dan sopan santun bisa
saling berselisih atau tampil bersamaan. Internet menjadi suatu medium yang multiintepretasi
dan menjadi sarana anonimitas yang terbuka.
Seberapa Pornokah Internet?
Pornografi
misalnya, suka atau tidak suka, saat ini dinilai merupakan suatu bisnis jutaan
dollar yang sangat berhasil di Internet.
Sebagai akibatnya, karena pemahaman bagai orang buta didalam masyarakat
ditambah dengan blow up media, kesan internet sebagai sarang pornografi
cenderung lebih lekat dan menimbulkan kesan yang kuat di masyarakat untuk
kemudian menjadi dasar pertimbangan apakah mau memanfaatkan Internet atau
bukan. Walaupun kampanye komersial untuk memanfaatkan internet setiap waktu
gencar dilakukan. Namun, demikian kuatnya kesan negatif ini, dan cenderung
semakin kuat bahkan melibas aspek-aspek lain dari Internet yang semestinya bisa
lebih memberikan dampak positif ketimbang negatif. Masalah ini bukan cuma
masalah di dunia Islam, namun hampir diseluruh dunia aktivitas pornografi,
kekerasan dan cybercrime mulai mendapat tentangan keras. Bahkan di Amerika Serikat
yang notabene menganut kebebasan pribadi, hal ini menjadi perhatian tersendiri.
Pornografi
di Internet sebenarnya duplikasi dari pornografi tradisional yang diwakili oleh
Film/video, majalah, telepon sex, tabloid, buku, stensilan, atau format media
lainnya. Representasi pornografipun tidak jauh berbeda misalnya dalam format
tekstual, gambar, suara dan video atau yang lebih sikenal sebagai multimedia.
Namun, sifat Internet sebagai media yang mampu menerobos batas-batas fisik
geografis dan demografis pemakainya ditakutkan akan memberikan dampak yang
lebih dahsyat ketimbang cuma sekedar majalah playboy atau penthouse. Jangkauan
yang lebih terbuka inilah yang banyak dipermasalahkan di masyarakat mengenai
dampak negatif teknologi Internet.
Dari
sisi isi, sebenarnya pornografi di Internet itu cuma 15-20 % dari seluruh isi
Internet yang terkait dengan pornografi, demikian ungkap Onno W. Purbo Pakar
Internet Indonesia dalam suatu seminar sosialisasi Internet kepada masyarakat.
Namun kuantitas yang relatif kecil ini tampaknya bukan jaminan bahwa ia tidak
memberikan dampak negatif. Namun tentunya tidak juga menjadikannya halangan
bagi kita untuk memanfaatkan teknologi Internet ini untuk dapat mencapai
manfaat yang lebih besar dan untuk meningkatkan kompetitifitas umat. Kalau mau
jujur, sebenarnya lebih membahayakan media konvensional dalam menyebarkan dan
menjadi sumber pornografi. Munculnya tabloid-tabloid yang mengumbar sensualitas
, seksualitas dan pornografi di masyarakat , stensilan, VCD Porno bajakan dan
format lainnya yang mudah dibeli dan mudah masuk ke segala lapisan masyarakat
akar rumput sebenarnya patut lebih diwaspadai ketimbang Internet yang
penetrasinya ke masyarakat masih relatif rendah.
Pornografi
di Internet memang susah dicegah. Kendati demikian, bukan berarti tidak dapat
diminimalisasikan atau dikurangi dampaknya. Bahkan upaya-upaya untuk lebih
positif memanfaatkan Internet masih tetap menjadi perhatian banyak pihak.
Perkembangan teknologi perangkat lunak untuk mencegah atau mempersulit akses ke
situs pornografi masih tetap banyak dilakukan orang. Netnanny misalnya, suatu
perangkat lunak yang dimaksudkan untuk mencegah akses ke situs-situs porno dan
tidak mendidik, merupakan suatu contoh upaya dari sisi teknis guna mencegah
dampak negatif Internet. Demikian juga beberapa perangkat lunak lainnya seperti
netpatrol, kidznet dll. Bahkan beberapa ISP di AS menyediakan akses yang lebih
bersih dengan cuma menyediakan isi yang pantas untuk keluarga misalnya
kidznet.com. Demikian juga situs-situs yang menginformasikan netiket (etiket
berinternet), situs anak, dll masih menjadi rujukan banyak penyedia jasa
Internet bagi para pemula.
Namun
yang lebih penting dari pencegahan teknis adalah melakukan edukasi ke
masyarakat secara utuh mengenai Internet. Baik formal maupun non formal,
pemahaman yang menyeluruh tentang Internet dapat memberikan motifasi kepada
masyarakat bahwa Internet sebenarnya bukan medan yang membahayakan apalagi
merupakan suatu perangkap peradaban. Bagaimana pun juga mesti disadari bahwa internet
adalah suatu alat teknologi, suatu infrastruktur telekomunikasi, sama halnya
dengan telepon. Kemampuannya untuk mengkonvergensikan teknologi komunikasi,
komputasi dan penerbitan (isi) menjadikannya lebih berdaya guna bagi banyak
pihak. Tapi tetap ada ia adalah suatu alat. Sebagai suatu alat tentunya nilai
yang muncul setelah digunakan akan sangat tergantung dari pemakainya. Apakah ia
akan menjadi alat propaganda kemaksiatan atau justru menjadi suatu media
pendidikan, media jualbeli atau media dakwah yang efektif dan efisien
tergantung bagaimana individu, organisasi atau suatu komunitas dalam
memanfaatkan dan mendayagunakannya.
Internet
sebagai media dakwah
Tiga tahun yang lalu, ketika saya melakukan riset
situs-situs Islam di Internet terasa sekali bahwa Umat Islam masih belum begitu
banyak memanfaatkan Internet sebagai alternatif media dakwah. Situs tertua yang
saya temui adalah situs Isnet.org yang dikelola oleh aktivis Pelajar Islam
Indonesia yang sedang belajar di luarnegeri. Isnet bisa disebut sebagai pionir
komunitas Islam di Internet yang notabene diprakarsai oleh pelajar-pelajar
Islam Indonesia yang berada di mancanegara. Basis kekuatannya dalah milis
(mailing list) yaitu forum diskusi melalui email, dimana pesertanya dapat
berdiskusi secara aktif untuk berbagai topik keagamaan. Selain itu, terdapat
juga upaya-upaya untuk membangun jaringan informasi Islam seperti Jaringan
Informasi Islam, yang diprakarsai oleh Pusat teknologi serba guna Salman ITB.
Media tradisional seperti hidayatullah dengan hidayatullah.com dan sabili
(sabili.ku.org saat ini sabili.co.id) pun setidaknya sudah memanfaatkan
Internet sebagai alternatif publikasinya di akhir 90-an itu. Selebihnya adalah
situs-situs organisasi seperti al-islam.or.id , kisdi, laskarjihad, dll. Paling
menarik adalah munculnya situs-situs personal yang menginformasikan tentang
Islam sebagai suatu personality page.
Tiga tahun yang lalu kalau kita melakukan pencarian melalui
situs pencari paling populer Yahoo.com dengan kata kunci “Islam”, ribuan situs
yang menginformasikan Islam akan ditampilkan. Saat ini, bila kita masukkan kata
kunci “Islam” yang muncul adalah puluhan bahkan ratusan ribu situs tentang
Islam dari yang dikelola dalam skala personal dan amatir sampai situs yang
memang dipersiapkan sebagai media dakwah abad-21 seperti yang dikelola oleh
islamonline.net sampai azzam.com yang sangat kontroversial karena dituduh
Pemerintah AS sebagai situs propaganda Al Qaida. Situs islamonline.net dikelola
oleh Dr. Yusuf Qadharawi seorang ulama Internasional yang terkenal dari Mesir.
Representasi dakwah di Internet semakin terakomodir dengan
semakin berkembangnya teknologi multimedia melalui World Wide Web (WWW).
Sebenarnya, perkembangan teknologi internet yang web enable inilah yang
banyak menyokong popularitas Internet sejak awal tahun 90-an yang lalu. Dengan
teknologi WWW ini penampilan informasi dan pengetahuan dapat dirancang dalam
berbagai format multimedia yang lebih atraktif dan menarik. Tidak cuma teks,
namun gambar, suara dan videopun sudah bisa ditampilkan diweb. Tidak Cuma
informasi yang pasif namun streaming audio dan video pun sudah bisa dilakukan
dengan adanya integrasi teknologi penyiaran radio melalui medium Internet.
Sebagai contoh, Radio Al Islam Mesir sudah melakukan streaming audio Al Qur’an
dimana suara orang mengaji akan terdengar 24 jam penuh sepanajng hari setiap
kali kita mengklik ke ayat yang ingin kita dengarkan (Lihat juga
http://www.myquran.com/alquran). Islamicity.com dan islamonline.net menyediakan
wawancara eksklusif secara berkala dengan ulama-ulama dan pakar Islam
Internasional seperti DR. Yusuf Qaradhawi, John L. Esposito, dan ulama serta
pakar Islam lainnya baik untuk menyatakan fatwa maupun untuk menyatakan
pendapat keilmuan mengenai suatu masalah. Tidak jarang dilakukan juga obrolan
real time (chatting) dengan para pakar dan ulama ini untuk menyikapi berbagai
masalah yang muncul di dunia Islam. Tragedi 911 WTC dan serangan AS ke
Afghanistan yang baru lalu merupakan contoh topik yang banyak dibincangkan di
situs-situs Islam. Tidak jarang munculnya situs-situs Islam ini membuat gerah
pemerintah AS. Contohnya, situs azzam.com yang sangat vokal sempat disweeping
dan kemudian dituduh oleh AS sebagai situs propaganda Usamah Bin Laden. Di
Texas AS suatu perusahaan web hosting (tempat menyewakan ruang server untuk
publikasi di Internet) digrebek dan dibredel FBI karena menyediakan tempat
untuk sekitar 200 situs Islam yang dituduh berkaitan dengan jaringan terorisme
internasional.
Di Indonesia situs-situs Islam mulai marak sekitar awal
tahun 1999. Situs myquran.com, al-islam.or.id, laskarjihad.or.id , kisdi.or.id,
pesantrenvirtual.com, iiman.co.id, hidayatullah.com, republika.co.id dan banyak
lagi yang lainnya mulai menyemarakkan Internet dengan berbagai format sajian.
Perkembangannya kemudian semakin pesat di tahun 2000-an dengan masuknya
berbagai investasi asing di Indonesia yang berhubungan dengan Internet. Format
penampilan pun berbeda-beda bahkan semakin tersegmentasi sesuai dengan
kebutuhan yang ada di masyarakat. Myquran.com menampilkan situs komunitas
kolaboratif dimana pengunjung situs dapat memanfaatkan berbagai fasilitas yang
ada seperti Al Qur’an online, direktori situs islam, forum diskusi, chatroom,
berita serta artikel dan berbagai sarana interaktif lainnya yang disumbangkan
oleh para pengunjung dan anggotanya. Sasarannya adalah pemakai internet usia 17
sampai 35 tahun yang merupakan segmen pemakai Internet terbesar dewsa ini.
Situs pesantrenvirtual.com yang dikelola oleh para santri virtual bimbingan KH.
Mustopha Bisri merupakan contoh lain situs Islam yang menyajikan berbagai hasil
konsultasi virtual dengan Pengelola Pesantren. Situs ini awalnya merupakan
komunitas milis yang kemudian di-online-kan menjadi situs. PadhangMbulan.com
merupakan contoh lain situs yang lahir dari komunitas milis yang dikelola oleh
Budayawan Emha Aiunun Najib. Cybernasyid.com menyediakan berbagai informasi dan
perkembangan nasyid yang mengejutkan dunia seni suara di tanah air.
Moslemworld.co.id merupakan contoh situs Islam yang mendapat dukungan dana dari
moslemworld.com dari Brunei Darussalam yang menyajikan berbagai referensi dan
informasi Islam terkini. Demikian juga pesantren.net, tazkia.com,
ukhuwah.or.id, eramuslim.com, pesantren-online.com, islamlib.com,
cybernasyid.com, indohalal.com dan banyak lagi yang lainnya yang merupakan
representasi dakwah islamiyah baik langsung maupun tidak langsung di Internet.
Ini baru menyebutkan beberapa situs Islam saja. Perkembangan yang lebih pesat
sebenarnya terjadi di komunitas milis islam yang jumlahnya sekarang ini
mencapai ribuan milis Islam dari Indonesia. Kecenderungan yang demikian
tentunya menggembirakan bagi dunia Islam.
Agar
Umat Tidak Menjadi Buih
Sebagai produk teknologi, Internet bisa dikatakan tidak
bebas nilai karena teknologi pada dasarnya dibuat untuk membantu memecahkan
masalah dan untuk memenuhi kebutuhan manusia dalam melakukan aktivitasnya
sehari-hari. Namun, dari sisi pemakai, baik atau buruk suatu alat sebagai
produk teknologi pada akhirnya tergantung pada bagaimana kita menggunakannya
dan bagaimana kita melihatnya. Pada akhirnya nilai positif atau negatif produk
teknologi akan ditentukan oleh niat dan motivasi yang akan menjadi penentu
apakah suatu alat akan menjadi bermanfaat atau mudharat. Disini, diperlukan
pendekatan yang terbaik untuk menjelaskan kepada masyarakat mengenai suatu
produk teknologi dalam hal ini adalah internet. Utamanya adalah
komunitas-komunitas muslim tradisional yang menjadi center of influence
masyarakat muslim Indonesia selama beradab-abad. Sejak jaman para wali sampai
zaman sekarang ini peran komunitas tradisional dan figur tradisional yang
kharismatis sangat signifikan bagi masyarakat Indonesia.
Untuk mengurangi dampak negatif solusi bisa didekati baik
secara teknis maupun non teknis. Solusi teknis seperti menggunakan software
netnanny, security etc, folterisasi dll. Namun solusi teknis sangat terbatas
dan parsial. Perlu pemantauan dan updating yang terus menerus. Dengan
pertumbuhan content dan teknologi Internet yang pesat, solusi teknis sebaiknya
menjadi suatu pagar yang tujuannya adalah meminimalkan "upaya".
Solusi alternatif lain yang bisa lebih menyeluruh adalah
dengan melakukan edukasi kepada masyarakat mengenai apa itu Internet secara
tuntas dan tidak sepotong-sepotong. Sosialisasi kepada masyarakat dalam hal ini
sangat berperanan. Tujuannya adalah mengeliminir "keinginan" atau
niat buruk dan meningkatkan motivasi positif untuk memanfaatkan Internet. Media
massa perlu menggambarkan Internet dengan tuntas bukannya secara parsial
mengeksploitasi dari satu sisi. Demikian juga para edukator baik guru, dai
maupun ulama perlu lebih terbuka dan tuntas dalam memahami perkembangan
teknologi informasi dalam kontek perkembangan zaman dan perkembangan umat untuk
mengantisipasi berbagai tantangan yang semakin berat. Para ulama perlu
menyikapi perkembangan zaman dalam konteks kekinian bukan menghambat dan
menyumbat berbagai perkembangan dalam lamunan masa lalu. Dengan melibatkan
berbagai pihak baik pelaku bisnis, pemerintah, organisasi masyarakat Islam,
Komunitas tradisional pendidikan Islam, Internet sebagai suatu produk
perkembangan zaman bisa disiasati dengan lebih positif dengan tindakan yang
lebih produktif untuk meningkatkan kompetitifitas umat.
Tentu saja masalah Internet dengan isu kesenjangan dijital
yang diwakili oleh aksesabilitas internet bagi masyarakat cuma masalah kecil
dibandingkan masalah-masalah lain yang sedang dihadapi Bangsa Indonesia. Namun,
tentunya hal ini tidak menjadikan kita lalai atas perkembangan dan dampaknya
yang terjadi diwaktu mendatang. Bagi Umat Islam khususnya, perkembangan
teknologi perlu disikapi lebih arif dan smart. Radio, televisi dan sederetan
budaya pop barangkali bisa menjadi petunjuk bagaimana suatu perkembangan teknologi
dan budaya pada akhirnya berkembang dan susah dibendung hanya karena kita lalai
dalam menyikapi implikasinya. Mungkin setengah abad yang lalu kita tidak pernah
mengira dampak yang ditimbulkan oleh mereka. Namun, sebagai suatu komunitas
umat yang berkembang sesuai zaman, antisipasi teknologi internet tentunya mesti
bisa diadopsi dengan lebih positif. Jadi bukan cuma sekedar waspada dan rasa
takut yang dibangun, namun kearifanlah yang diperlukan. Kalau tidak, kita Umat
Islam akan semakin menjadi buih-buih kecil di ganasnya gelombang perubahan
peradaban Umat Manusia.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar